Kondisi Polusi Jakarta Menurun! Sejak Berlakukan Work From Home 974 Perusahaan di Jakarta

  • Whatsapp
A traveler sitting on the rooftop watching at the city

Suasana pagi yg cerah di Jakarta dengan latar belakang gunung gede pangrango (kiri) & gunung salak (kanan) terlihat, kemarin. Memasuki pekan ke-3 himbauan pemerintah kepada masyarakat utk mencegah penyebaran Covid 19, polusi udara di ibukota turun drastis.

Sementara data situs BMKG, menunjukkan tren penurunan kadar polutan PM10 dalam 21 hari terakhir. Namun, angkanya pun masih fluktuatif.

Bacaan Lainnya

Pada Minggu mencapai angka polusi tertinggi dengan 14 µgram/m3.

Data polusi PM10  Jakarta versi BMKG (Situs BMKG)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan data kualitas udara Jakarta tergolong baik pada skala warna hijau. Hal ini diungkap terkait dengan kondisi polusi udara pasca penerapan kerja dari rumah guna hindari penyebaran Covid-19.

Menurut Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto, kandungan PM10 di udara Jakarta, menunjukkan konsentransi yang sangat rendah dikisaran 0-50 µgram/m3.

Sementara menurut data Greenpeace Indonesia, kualitas udara Jakarta hari ini menunjukkan kualitas sedang. Berdasarkan data pada situs AQI (Air Quality Index), Juru Kampanye Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu menyebut konsentraasi polutan udara di Jakarta ada di level 14 µgram/m3.

Pengaruh kerja di rumah?

Namun, ketika ditanya apakah kualitas baik udara Jakarta terkait dengan kebijakan bekerja dari rumah, Siswanto belum dapat memastikan hal tersebut. Menurutnya, efek tersebut baru bisa terlihat dalam waktu seminggu.

Sebab, menurut Siswanto, ada kemungkinan penurunan polutan PM10 berkurang akibat musim hujan. Sebab, pada musim hujan konsentrasi PM10 memang cenderung menurun akibat proses pencucian oleh hujan (rain washing).

Baca Juga:  Ada Shoot Dance Emote dan Shake It Up Emote di Kode Redeem FF Belum Digunakan 17 September 2021

Senada dengan Siswanto, Juru Kampanye Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu mengatakan pihaknya tidak bisa menyimpulkan kualitas udara Jakarta dalam tiga hari belakangan ini.

Sebab, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi misalnya aksi bakar sampah yang juga menyumbang polutan.

“Belum bisa kita bilang ini baik atau tidak. Lalu ada beberapa faktor, 21 hari ini ada hujan lalu angin lumayan kencang. Belum lagi sumber lain seperti yang bakar sampah,” tutur Bondan.

Akibat lockdown Corona, polusi China dan Italia turun

Sebelumnya, Badan Antariksa Eropa mengatakan lockdown memiliki efek positif besar pada emisi CO2.

Satelit ESA’s Sentinel-5P memperlihatkan konsentrasi nitrogen dioksida di Italia yang diproduksi oleh mobil dan pembangkit listrik mengalami penurunan drastis sejak tanggal 1 Januari hingga 05 April 2020.

Sama dengan Italia, menurut pantauan NASA dan Badan Antariksa Eropa kualitas udara di China telah meningkat menjadi lebih baik secara signifikan sejak 1 Januari 2020.

Program Observasi Bumi Uni Eropa mengatakan pengukuran satelit menunjukkan bahwa tingkat polusi PM2.5 di Tiongkok pada Februari 2020 turun sekitar 20 hingga 30 persen dibandingkan dengan rata-rata untuk bulan yang sama pada 2017, 2018 dan 2019. (din/eks)

Sumber : BMKG, Dinas LH DKI Jakarta, CCN Indonesia dan media indonesia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *