Polisi Ini Nyambi Beternak Lalat di Masa Pandemi, Hasilkan Rp 15 Juta Per Bulan

  • Whatsapp

Di tengah masa-masa sulit akibat wabah corona, banyak orang yang kehilangan mata pencaharian, entah karena diberhentikan dari pekerjaan atau karena bisnisnya terhambat. Namun, apa yang dikerjakan oleh Aiptu Sholihin ini barangkali bisa menjadi inspirasi.

Di luar jam kerjanya sebagai Kepala Seksi Teknik Informasi Polres Labuhan Batu, Aiptu Sholihin dalam beberapa bulan terakhir mengisi waktunya dengan membudidayakan lalat black soldier fly (BSF) yang dikenal memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Tak tanggung-tanggung, dalam sebulan, Sholihin bahkan bisa mendapatkan keuntungan mencapai Rp 15 juta.

Aiptu Sholihin menunjukkan lalat hasil budidayanya.

Pada mulanya Sholihin hanya memiliki kandang seluas 1×2 meter di halaman rumahnya di Kelurahan Aik Paing, Rantauparapat, Labuhan Batu. Ia menyiapkan 20 ekor lalat betina super, untuk menghasilkan 10.000 larva atau maggot BSF untuk pakan terbak. Diketahui, satu ekor betina lalat BSF bisa menghasilkan 600 telur.

Larva lalat BSF kering

Sholihin bilang, ternak lalat yang dilakoni berawal dari gagasan anaknya yang kuliah di Pulau Jawa. Telur lalat dipanen setiap dua-tiga hari sebanyak 200 gram, dimana satu gramnya dibanderol Rp 10 ribu.

“Gampang, tidak rumit dan tidak buat stres. Tidak perlu biaya besar dan hasilnya cukup lumayan,” katanya.

Aiptu Sholihin menunjukkan lalat hasil budidayanya

Selain telur lalat, dirinya juga menjual maggot ulat berwarna putih dengan harga Rp 8.000 per gram, dan larva ulat warna hitam Rp 80 ribu per Kg. Ia bahkan menjual lalatnya sampai Aceh dan Riau, dengan memanfaatkan jejaring sosialnya.

Proses bertelurnya lalat BSF (Black Soldier Fly)

Karena hasilnya menjanjikan, Sholihin lantas memperbesar kandang lalatnya menjadi 4×12 meter.

“Jadi sekarang bisa menampung sekitar ribuan lebih lalat BSF, dan bisa menghasilkan, yang pernah saya peroleh, dua hari 200 gram,” ujarnya.

Baca Juga:  Bantargebang Waste Garbage Power Plant carries the concept of Waste to energy

Sholihin berharap, apa yang dilakukannya bisa ditiru oleh masyarakat, terutama yang sedang kesulitan dalam ekonomi di masa pandemi corona ini.

“Telurnya harganya cukup lumayan, dan pemasarannya pun tidak susah. Negara tetangga pun sempat juga menanyakan, tetapi karena tidak sanggup memenuhi ya gak bisa. Mintanya 500 gram per harinya,” Sholihin menambahkan.

Sumber: beritanesia.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *