Fenomena Menyisipkan Iklan Pada Sinetron Menjadi Favorit Program TV Saat ini

  • Whatsapp
Smiling loving couple sitting on couch together and watching tv. focus on tv remote Free Photo
Smiling loving couple sitting on couch together and watching tv. focus on tv remote Free Photo

Coba kalian bayangkan apabila lagi asik-asik nonton tiba-tiba muncul iklan seperti ini:

iklan yang ngeselin
iklan yang ngeselin

Ilustrasi

Ketika ada adegan sinetron di mana dua bucin (budak cinta) sedang bicara serius, lalu belum selesai pembicaraan muncul adegan lain seperti membahas produk makanan, bisa minuman, bisa tempat belanja online bisa tempat beli tiket online.

Setelah selesai, lanjut lagi sinetronnya.

Kemudian muncul lagi iklan lain seperti belanja online selama 15 detik.

Terus lanjut lagi sinetronnya.

Di tambah, kadang suka muncul papan reklame yang isi iklannya adalah iklan produk.

Seakan-akan papan reklame tersebut di buat seperti nyata.

Terus aja kaya gitu… Sampe sinetron selesai. Ada beberapa placement (penempatan) iklan produk yang beraneka ragam.

sinetron bucin ikatan cinta
sinetron bucin ikatan cinta

Beberapa judul sinetron unggulan sejumlah stasiun TV sudah menerapkan format ini.

Kalau Admin amati, format beriklan seperti ini merupakan sesuatu yang tidak baru, karena hanya mngembangan dari format yang sudah ada sebelumnya.

Mungkin Anda pernah mengetahui format kuis suatu produk di tengah acara? Atau, saat sedang menonton konser musik di TV, tiba-tiba ada promosi produk sebelum musisi akan bernyanyi?

Selain itu, saat menonton suatu program, siarannya tiba-tiba mengecil dan di sisip spanduk produk di masukkan selama 15-30 detik? Atau, saat menonton program memasak, kamera fokus ke merek bumbu atau alat masak?

Semua format seperti ini banyak di terapkan ke dalam program TV masa kini.

Sebelumnya, kami hanya memahami iklan dalam beberapa format, seperti TVC (jeda iklan), waktu pemblokiran (waktu pembelian untuk penempatan acara terkait produk tertentu) hingga catatan terima kasih yang muncul di akhir program atau pada judul kredit .

Namun seiring dengan perkembangan zaman dan tantangan periklanan saat ini, semakin banyak pula format periklanan yang bermunculan, termasuk di televisi. Istilah keren yang menyusup dalam sinetron ini adalah iklan yang tidak memakan waktu lama. Bahasa lain adalah creative advertising.

Baca Juga:  New Reasons To Make A Driving License At The Age Of 17 Years

Saya pertama kali menemukan istilah ini dari presentasi yang di terbitkan oleh grup MNC, grup media (yang di akui) terbesar di Asia Tenggara. Mereka adalah salah satu grup media yang paling akrab dengan jenis iklan ini.

Dalam beberapa publikasi, mereka menargetkan peningkatan pendapatan iklan dari format infiltrasi ini pada 2019 sebesar 4-5%, di bandingkan hanya 3% pada 2018.

Sepertinya target ini sudah tercapai ya. Buktinya semakin banyak iklan yang mengganggu setiap kita menonton acara di TV dan browsing internet. Sejumlah kelompok media terkemuka lainnya juga telah menerapkan format periklanan semacam ini. Misalnya kelompok SCM yang membawahi SCTV dan Indosiar.

Lalu mengapa iklan seperti ini di sebut non-time consuming?

Menurut modul Manajemen Penyiaran Televisi yang di terbitkan oleh Universitas Terbuka pada awal tahun 2019, istilah non-time consuming adalah istilah di mana iklan di pasang pada program televisi dan tidak masuk waktu tayang stasiun televisi tersebut.

Artinya, iklan tersebut termasuk dalam program televisi dan tidak digabungkan dengan format iklan regular atau TVC dan format iklan lainnya.

Sebaliknya, lawan dari non-time consuming adalah consuming time advertisement.

Contoh Consuming Time Advertisement

Stasiun TV A memiliki waktu tayang 24 jam non stop, dimana programnya sendiri memiliki waktu tayang 18 jam, selebihnya 6 jam adalah iklan atau tayangan komersil.

Jika dari 18 jam ada iklan yang telah di sisipkan di dalam acara (misal: sinetron), maka iklan tersebut tidak memakan waktu. Sedangkan 6 jam itu adalah consuming time.

Perlu di ingat, 6 jam ini bisa berupa akumulasi jeda iklan untuk setiap program atau bisa juga berupa waktu pemblokiran khusus, seperti yang di lakukan oleh sejumlah TV lokal dengan home shopping yang bisa memakan waktu lama.

Sebagai penonton acara sinetron (meski baru belakangan ini), Admin merasa perlu melakukan sampling komentar netizen atas format iklan baru ini.

Tak perlu ribet mensurvei, ambil foto sejumlah sinetron yang saat ini masuk peringkat 20 besar. Mungkin pembaca butuh.

Baca Juga:  Even-odd questions for motorists. Call the Police Will Not Ticket Drivers If This Is Not There Yet!

Komentar dari netizen umumnya menganggap format iklan ini mengganggu. Apalagi jika dalam 2-3 jam tayang sinetron ada lebih dari 4-5 produk yang diiklankan setiap hari dan menyita perhatian penonton.

Balik ke kejadian pasangan bucin tadi, bayangkan  tegang tegangnya nonton, lagi mikir apa yang terjadi selanjutnya (sambil mungkin ada yang bilang, “saya suka keributan”), tiba tiba 10 detik disita sama iklan online shopping dengan diskon super gede yang periodenya masih di mulai 1-2 minggu lagi.
Kembali ke kejadian pasangan bucin tadi, bayangkan ketegangan menonton, lagi mikir apa yang terjadi selanjutnya (sementara mungkin ada yang bilang, “Saya selingkuh”), tiba-tiba 10 detik disita iklan belanja online dengan diskon super besar yang haidnya masih di mulai. 1-2 minggu lagi.

Apalagi jika tiba-tiba klimaksnya tidak kunjung datang, antara adegan promosi basi wafer coklat atau kopi dengan perlakuan copywriting yang sama setiap episodenya, hanya orang yang berbeda bermain atau sekedar ngobrol.

Apakah Iklan Seperti ini Mengganggu?

Jelas sekali, ini mengganggu. Perlakuannya masih cukup kasar dan tidak nyambung dengan scene. Beralih antar adegan terkadang tidak mulus.

Kondisi ini terjadi ketika tim penulis skenario makin di tuntut membuat cerita yang bisa naikin rating. Sudah begitu, cara kerjanya stripping pula. Dengan kondisi yang seperti ini, tentu kenyamanan menjadi taruhannya.

iklan muncul di antara adegan tv
iklan muncul di antara adegan tv

Anda dapat membayangkan membuat adegan perpaduan dan pemeringkatan seperti yang di inginkan pengiklan.

Kenapa Program Iklan Seperti ini di Terapkan Kembali?

Admin melihat periklanan di dunia digital semakin menarik perhatian, terutama karena sejumlah brand besar khususnya di sektor FMCG mulai gencar melakukan promosi di dunia baru ini.

Dengan kondisi yang semakin gencar, menuntut adanya perubahan cara pandang periklanan dari konsep biasa.

Jika dulu orang tidak terlalu suka menonton storytelling atau bercerita, kini konsep periklanan menjadi sangat penting.

Bayangkan, misalnya, iklan Ramayana yang tadinya sekedar pengumuman diskon besar-besaran, kini justru menarik berkat cerita atau konsep yang unik. Tetap saja, diskon itu nomor satu, tetapi pendekatannya yang membuatnya berbeda.

Baca Juga:  Tutorial Dasar Belajar QBasic dan Contoh Program QBasic

Dengan konsep yang semakin menarik, orang akan semakin lekat dengan produk atau jasanya.

Televisi sebagai media audiovisual merasa perlu mengambil posisi ini jauh lebih baik.

Belum lagi tekanan dari sisi kue belanja iklan semakin mempersulit, dimana ruang pertumbuhan kue iklan untuk televisi sudah cukup terbatas padahal kompetitor lebih banyak, sehingga perlu dilakukan optimasi. mampu meraup lebih banyak pendapatan dari iklan, dengan cara yang berbeda.

Data Nielsen per kuartal II 2019 menyebutkan penggunaan smartphone meningkat hingga 56% dibandingkan kuartal yang sama tahun 2016 yang hanya 35%. Dengan peningkatan tersebut, penetrasi internet juga meningkat sehingga memperlambat penetrasi televisi yang sudah berada pada puncaknya.

Akhirnya berakhir di iklan juga.

Intinya, perubahan selera masyarakat terhadap iklan dan faktor persaingan merupakan dua faktor yang mendukung sejumlah kelompok media melakukan upaya tersebut.

Upaya ini memang terkesan “memaksa” penonton untuk memberi ruang dan kenyamanan diri dengan serbuan iklan yang semakin merambah program televisi.

Harapannya, pemirsa tetap dapat menonton program tersebut dan tetap merasa dekat dengan program tersebut meskipun iklan kopi, biji atom dan jual pulsa bertebaran dan dimainkan oleh para pemeran sinetron tersebut.

Namun, yang harus di perhatikan adalah kondisi ini tentu saja tidak bisa di biarkan larut.

Format periklanan ini harus dikontrol. Karena jika tidak di kontrol, selain mengganggu kenyamanan menonton juga dapat terjadi pelanggaran etika dalam periklanan yang sedang di lakukan dan cenderung lebih sulit untuk di pantau di bandingkan dengan metode periklanan biasa.

Akhir Kata

Itulah informasi “Fenomena Menyisipkan Iklan Pada Sinetron Menjadi Faforit Program TV” yang dapat admin infosolution.biz sampaikan. Semoga bermanfaat.

Jika Anda menyukai artikel ini, jangan lupa klik lonceng yang ada di kanan bawah ya untuk mengetaui informasi terupdate dari kami. Dan ikuti juga fans page facebook , chanel youtube dan instagram kami. Selain itu, kami juga memiliki kumpulan source code di GitHub. Terima Kasih

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *