Putra Tifatul Sembiring Memanggil Ayahnya Koplak karena Bela Edy Mulyadi
Putra Tifatul Sembiring Memanggil Ayahnya Koplak karena Bela Edy Mulyadi

Putra Tifatul Sembiring Memanggil Ayahnya Koplak karena Bela Edy Mulyadi

Posted on

Anak Tifatul Sembiring memanggil ayahnya Koplak karena pembelaan Edy Mulyadi

DITERBITKAN OLEH : MIB
RABU, 26 JAN 2022 – 09:56

Tifatul Sembiring disemprot oleh putranya sendiri, yaitu Fathan Asadudin Sembiring karena membela Edy Mulyadi tentang “Kalimantan tempat jin membuang anak”.

Fathan menyarankan ayahnya untuk tidak berbicara, yang pada gilirannya membuat kesalahan besar.

“Begitulah Beh, mingkem. Politik di Indonesia tidak perlu lagi iseng-iseng. Apa gunanya?,” kata Fathan, (25/1).

Ia mengingatkan ayahnya untuk sadar diri dan memahami situasi sosial politik generasi sekarang. Tidak mungkin langsung menggunakan istilah-istilah yang berpotensi mendiskreditkan daerah dan pihak lain sesuka hati, terutama melalui spektrum media sosial.

“Untuk generasinya, pidato seperti itu dianggap oke. Dia lupa kalau ini bukan zamannya lagi, ada media sosial. Wong, dia menteri pertama, kenapa masih coba-coba,” ujarnya.

Ia juga khawatir pernyataan Tifatul itu bisa semakin menyulut kemarahan masyarakat luas, khususnya masyarakat di Kalimantan.

“Suasana kerohanian masyarakat Indonesia di tengah pandemi ini sedang tidak baik-baik saja. Jangan kasih minyak untuk menyiram arang, apalagi soal kekhasan daerah, wajar saja kalau yang dari Kalimantan akan lebih tersinggung,” kata Fathan.

Alasan apa pun yang digunakan Edy Mulyadi tidak bisa dijadikan pembenaran. Karena selama berkarir, ia justru menganggap Kalimantan memiliki kekhasan tersendiri.

“Kegiatan saya sebagai konsultan bisnis dan manajemen sering membuat saya pergi ke Kalimantan, paling sering ke Kalimantan Barat. Kalimantan adalah masa depan Indonesia,” katanya.

Isu pro dan kontra Undang-Undang Ibukota Negara (UU IKN) yang dibahas dan dibahas DPR RI pada 18 Januari 2022, tidak mempersoalkan Fathan. Namun, ia menyarankan penolakan itu perlu dibangun dengan konstruksi argumentasi yang baik dan kuat, bukan sekadar umpatan yang tidak perlu.

READ ALSO:  5+ Web Hosting Gratis untuk Website Anda di Indonesia

“Meskipun keajaiban UU IKN kemarin, fokus pada komentar kritis tentang itu, bukan tentang berpura-pura dengan membela siapa mantan calon legislatif, dan kemudian inilah yang ditangkap, diingat, dan memiliki jejak digital oleh masyarakat luas. . Salin,” tutupnya.

Tifatul Sembiring Bela Edy Mulyadi

Perlu diketahui, politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Tifatul Sembiring mengatakan bahwa apa yang dikatakan Edy Mulyadi bukanlah sebuah penghinaan.

Bahkan, ia menganggap ungkapan ‘tempat jin melempar anak’ adalah istilah yang artinya lokasinya sangat jauh dan sepi.

“Tidak ada kata-kata yang menghina, tidak ada! Yang mana yang menghina?” tanya Tifatul, Senin (24/1).

Kemudian Tifatul menambahkan bahwa kalimat ini sering digunakan oleh masyarakat Jakarta sehari-hari untuk menunjukkan bahwa lokasinya sangat jauh dari keramaian dan sepi.

Sehingga menurutnya, pernyataan Edy Mulyadi sangat erat kaitannya dengan masyarakat Betawi.

“Saya sudah lama di Jakarta dan bergaul dengan orang Jakarta dan Betawi. Jadi ‘di mana jin membuang anaknya’ saya bertanya kepada karakter Betawi, apa artinya? Tempat sepi, jauh, seram, artinya tiga, bukan tempat jorok,” ujarnya dalam penjelasan yang diberikan, dilansir Terkini.id.

“Sekarang saya tinggal di Depok, dulunya di Tanah Abang. Ketika saya pindah ke Depok, teman-teman saya berkata, ‘Mau pindah ke tempat jin membuang anak-anak?’ Jadi tidak ada konotasi menghina, jadi apa lagi yang dipersoalkan. Kami juga sudah meminta maaf dan sudah meminta maaf,” lanjut Tifatul.

Gravatar Image
infosolution.biz adalah tempat belajar blogger pemula dan profesional. Kamu bisa menemukan kami di sosial media berikut Facebook | Youtube | Instagram. Ingin bekerja sama dengan kami, silahkan hubungi kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *