Cerita Asli KKN di Desa Penari Lengkap Versi Widya dan Nur

Cerita Asli KKN di Desa Penari Lengkap Versi Widya dan Nur

Infosolution.biz – Film KKN di Desa Penari belakangan ini menjadi sorotan publik sejak tayang perdana pada 30 April 2022. Banyak yang penasaran dengan film horor Indonesia yang diangkat dari kisah nyata 13 tahun lalu. Kisah KKN selengkapnya bisa kamu simak di Kampung Menari versi Nur di bawah ini.

Seperti diketahui, sebelum diangkat ke layar lebar, kisah KKN di Kampung Penari sempat viral di twitter. Kisah ini awalnya diunggah oleh seorang pengguna twitter dengan akun bernama @SimpleM81378523 pada tahun 2019. Menurut pengunggah, kisah tersebut adalah kisah nyata yang terjadi di sebuah desa di Jawa pada tahun 2009. Berikut adalah kisah lengkap KKN versi Nur di desa menari.

Kisah mistis dialami enam mahasiswa yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa terpencil. Keenam siswa tersebut bernama Ayu, Nur, Widya, Bima, Anton dan Wahyu. Kisah KKN di Desa Penari terbagi menjadi dua versi cerita, yaitu versi Nur dan Widya. Lantas bagaimana kisah lengkap KKN di Kampung Menari versi Nur? Simak ulasan berikut ini.

Kisah Lengkap KKN di Kampung Tari Versi Nur

Kisah Lengkap KKN di Kampung Tari Versi Nur

Berdasarkan kutipan dari akun Twitter SimpleMan, berikut cerita lengkap KKN di Kampung Menari versi Nur:

Nur adalah seorang gadis yang bercita-cita kuliah di universitas yang diimpikannya sejak kecil. Bulan demi bulan telah ia lewati, hingga akhirnya ia tiba di semester akhir yang mengharuskannya untuk menyelesaikan tugas pengabdian masyarakat atau yang dikenal dengan KKN.

Nur dan keenam temannya harus mencari sendiri tempat KKN karena tidak berkesempatan mengikuti KKN yang sudah ditentukan dari pihak kampus. Suatu malam, Ayu, seorang teman dari fakultas Nur, baru saja membicarakan rencananya. Beliau sudah memiliki tempat yang cocok untuk melaksanakan kegiatan KKN-nya dan Nur akan ikut serta dalam observasi pengenalan lokasi KKN.

Nur kemudian bersiap berangkat ke desa yang dimaksud Ayu. Di sela-sela, Nur teringat harus segera memberitahu rekan-rekannya yang lain. Karena KKN merupakan kegiatan yang harus diselesaikan bersama.

Wid, nang ndi?” (Wid, dimana?)

“Nang omah Nur, yo opo, wes by nggon KKN’e” (di rumah Nur, bagaimana bisa dapat tempat KKN?) tanya Widya.

“engko bengi Wid, aku jahat pada Ayu, doakan aku” (Malam ini Wid, aku ikut Ayu, doakan aku)

“Sigh. Saya harap itu tidak akan disetujui”

“Amin” jawab Ayu sambil mematikan teleponnya.

Hari-hari berlalu dan tiba saatnya Nur pergi ke desa yang menjadi lokasi KKN. Nur juga melihat mobil kijang yang sudah berhenti, Ayu sahabatnya keluar, diikuti oleh seorang pria di belakangnya. Nur mengira mungkin Mas Ilham, kakak Ayu yang akan mengantar mereka ke lokasi KKN.

“Ayo dong,” kata Ayu langsung menggandeng Nur untuk masuk ke mobilnya.

Kemudian Mas Ilham membawa barang-barang milik Nur ke mobil. Tak lama kemudian mobil itu melaju.

“Oh bukan?” (Jauh gak?) tanya Nur pada Ayu.

“Paling lama 4 sampai 6 jam tergantung ngebut atau tidak” (Paling tidak 4 sampai 6 jam tergantung ngebut atau tidak? jawab Ayu.

Antrian Penonton Film KKN di Kampung Menari Ternyata Tiket di Bioskop Ini Habis Habis Netizen : Lebih Baik Rebahan Di Rumah

“Nyanyi jelas, kampung rapi, gak jamin, iseh natural. Intinya cocok buat kerja proyek, sing adewe aransemen wingi” (jelas kampungnya bagus, gak jamin, masih natural, pas buat program kerja yang kita susun kemarin)

Ayu terlihat begitu antusias menceritakan desa, sedangkan Nur merasa tidak nyaman.

Sebenarnya banyak hal yang membuat Nur merasa bimbang, salah satunya soal lokasi, waktu dan lain sebagainya. Sejujurnya, ini pertama kalinya Nur pergi ke etan (daerah timur). Sebagai wanita yang lahir di daerah Kulon (daerah Barat) ia telah mendengar banyak rumor tentang daerah etan, salah satunya tentang mistiknya.

Keadaan mistis bukanlah hal baru bagi Nur, bahkan ia sudah sarat dengan berbagai pengalaman tentangnya. Saat mengejar pendidikannya sebagai mahasiswi, dia sering mengabaikan perasaan tidak mampu yang muncul karena kebetulan belaka. Tapi anehnya malam ini Nur tidak pernah merasa seburuk saat itu

Benar saja, perasaan aneh itu terus tumbuh saat mobil lewat. Salah satu pertanda buruk yang terjadi adalah ketika, sebelum memasuki kota J yang tujuannya adalah kota B, Nur melihat seorang lelaki tua meminta uang di perempatan ia tampak menatap Nur dengan tatapan prihatin.

Tak hanya itu, sang kakek menggelengkan kepalanya seolah memberi isyarat kepada Nur yang berada di dalam mobil, agar niatnya baik.

Namun Nur belum bisa mengambil keputusan, karena ada teman-teman lain yang menunggu kabar baik dari pantauan hari ini.

Hujan tiba-tiba turun, tanpa terasa, lebih dari 4 jam perjalanan telah ditempuh. Mobil berhenti di rest area yang sepi, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Di tengah hutan yang gelap, Nur mendengar seseorang memanggil namanya.

“Hutan. Desa ini di dalam hutan,” kata Mas Ilham.

Nur tidak berkomentar, ia hanya berdiri di samping mobil yang berhenti di tepi jalan hutan. Hutan tersebut merupakan hutan yang sudah dikenal oleh masyarakat Jawa Timur.

Tidak lama kemudian, Anda bisa melihat lampu dan suara sepeda motor. Mas Ilham sambil melambaikan tangan.

Kisah Lengkap KKN di Kampung Tari Versi Nur

Ayu terlihat begitu antusias menceritakan desa, sedangkan Nur merasa tidak nyaman.

Sebenarnya banyak hal yang membuat Nur merasa bimbang, salah satunya soal lokasi, waktu dan lain sebagainya. Sejujurnya, ini pertama kalinya Nur pergi ke etan (daerah timur). Sebagai wanita yang lahir di daerah Kulon (daerah Barat) ia telah mendengar banyak rumor tentang daerah etan, salah satunya tentang mistiknya.

Keadaan mistis bukanlah hal baru bagi Nur, bahkan ia sudah sarat dengan berbagai pengalaman tentangnya. Saat mengejar pendidikannya sebagai mahasiswi, dia sering mengabaikan perasaan tidak mampu yang muncul karena kebetulan belaka. Tapi anehnya malam ini Nur tidak pernah merasa seburuk saat itu

Benar saja, perasaan aneh itu terus tumbuh saat mobil lewat. Salah satu pertanda buruk yang terjadi adalah ketika, sebelum memasuki kota J yang tujuannya adalah kota B, Nur melihat seorang lelaki tua meminta uang di perempatan ia tampak menatap Nur dengan tatapan prihatin.

Baca juga:

Link Nonton Film KKN di Dancing Village Film Legal Kualitas Full HD, Bukan di LK21 atau IndoXXI!

Tak hanya itu, sang kakek menggelengkan kepalanya seolah memberi isyarat kepada Nur yang berada di dalam mobil, agar niatnya baik.

Namun Nur belum bisa mengambil keputusan, karena ada teman-teman lain yang menunggu kabar baik dari pantauan hari ini.

Hujan tiba-tiba turun, tanpa terasa, lebih dari 4 jam perjalanan telah ditempuh. Mobil berhenti di rest area yang sepi, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Di tengah hutan yang gelap, Nur mendengar seseorang memanggil namanya.

“Hutan. Desa ini di dalam hutan,” kata Mas Ilham.

Nur tidak berkomentar, ia hanya berdiri di samping mobil yang berhenti di tepi jalan hutan. Hutan tersebut merupakan hutan yang sudah dikenal oleh masyarakat Jawa Timur.

Tidak lama kemudian, Anda bisa melihat lampu dan suara sepeda motor. Mas Ilham sambil melambaikan tangan.

“iku wong deso’ne, melbu’ne deso harus naik sepeda motor, jangan khawatir untuk mendapatkan mobil” (itu orang desa, harus naik sepeda motor untuk masuk ke desa, mobil tidak bisa masuk karena)

Nur dan Ayu lalu mengangguk, tanda mereka mengerti. Tanpa pikir panjang, Nur sudah duduk di jok belakang sepeda dan mereka pun pergi. Perjalanan kini mulai memasuki jalan setapak.

Dengan tanah yang tidak rata, Nur harus berpegangan kuat pada jaket bapak-bapak yang menggendongnya. Tanahnya masih lembab, ditambah embun fajar juga terlihat di sana-sini memenuhi pepohonan yang rimbun.

READ ALSO:  Kode Redeem FF Terbaru 25 Maret 2021 Klaim Hadiah Gratis FF dari Garena

Tiba-tiba Nur, melihat seorang wanita yang sedang menari di atas batu. Seolah menyambut dia yang datang ke desa. Mata penari itu berkilat tajam, dengan paras yang cantik dan rupawan. Kemudian wanita itu, tersenyum seolah sedang menyambut tamu yang telah ditunggu-tunggunya.

Nur kemudian melihat ke arah lain, namun Nur terkejut mendapati wanita itu telah menghilang tanpa jejak. Dia menyadari bahwa dia telah disambut oleh sosok yang tahu apa itu.

Setelah memasuki desa, Mas Ilham kemudian memeluk seorang pria yang mungkin seumuran dengan ayahnya yang ada di rumah. Pria itu tampak ramah, dan tersenyum. Mengambil tangannya, Nur mendengar pria itu memperkenalkan dirinya.

Kisah Lengkap KKN di Kampung Tari Versi Nur

“kulo, Prabu” (saya Prabu)

Kemudian Ilham menyampaikan tujuan kunjungannya untuk meminta izin penyelenggaraan kegiatan KKN di desa tersebut. Apa yang akan dilakukan adiknya, Ayu dan enam rekannya, termasuk Nur.

“Sepurane Ham, maaf, tapi saya kenal Suwe, tapi desa ini tidak tahu bahwa Anda terlibat dalam kegiatan KKN” (maaf Ham, saya tahu kita sudah lama saling kenal, tapi Anda belum pernah menggunakan desa ini untuk kegiatan KKN)

“Silahkan Pak,” kata Mas Ilham.

Saat itu, Pak Prabu dengan keras menolaknya hingga suasana saat itu menjadi tegang.

“Bukan, itu bukan ISOK HAM,” kata Pak Prabu, menekankan kata-katanya kepada Mas Ilham dengan ekspresi yang tidak terduga.

“Maaf pak, saya minta maaf, saya minta maaf, saya akan memperjuangkan sikap sepuluh mriki, mboten neko-neko, tolong pak”

(Saya tidak akan aneh. Tolong pak) kata Ayu sambil membantu adiknya, matanya berkaca-kaca. Dia belum pernah melihat Ayu seganas ini sebelumnya. Raut wajah Pak Prabu yang tadinya mengeras kini melunak.

“Piro nyanyi KKN, kok dek?” (berapa KKNnya?)

Dengan antusias Ayu menjawab. “6 pak”

Setelah proses negosiasi berhasil, dengan persetujuan Pak Prabu dan tentunya masyarakat sekitar, mereka akan resmi melaksanakan KKN di desa tersebut. Di sana ia juga mengetahui proyek pekerjaan apa yang akan menjadi wacana mereka selama di sana, salah satunya adalah kamar mandi dengan air sumur.

Ia tahu, masyarakat hanya mendapatkan air dari sungai yang ada di desa. Jadi ini menjadi ide mereka untuk membuat sumur lebih efisien. Di sela-sela tengah mereka membuat proyek kerja di desa.

Saat berjalan di sekitar desa, Nur terdiam ketika melihat sebuah batu tertutup kain merah. Di bawahnya, ada sesajen lengkap dengan aroma kemenyan.

Nur melihat di atas batu berdiri sesosok hitam dengan mata tajam, merah menyala. Meski siang bolong, Nur bisa melihat dengan jelas kulitnya yang tertutup bulu. Selain itu ia juga memiliki tanduk kerbau. Tak lama, mata mereka bertemu, sebelum Nur memberi tahu Ayu bahwa mereka harus pulang.

“Lapor ke Nur, kok kamu laki-laki gopoh” (kenapa Nur, kenapa kamu buru-buru pergi)

“Maaf, Ilham, kami menyukainya,” kata Nur.

“Yo wes, ayo” sambut Ayu.

Mereka langsung menaiki motor. Kemudian, sebelum meninggalkan desa, Nur melihat kembali sosok Genderuwo yang menakutkan.

“Nur, jak’en Bima, yo, ambek Widya, engkok ambek kenalanku, Kating” (Nur, ajak Bima, Widya, dan kenalanku Kating) kata Ayu di dalam mobil.

“Bima, kenapa kamu tidak jalan-jalan dengan cah kui” (kenapa kamu mengajak Bima)

“ben rame, kan wes know suwe” (biar rame, kan udah kenal lama) kata Ayu

“Mengapa kru Anda tidak bernyanyi?” (kenapa tidak diundang saja) kata Nur.

Kisah Lengkap KKN di Kampung Tari Versi Nur

“Awakmu adalah biyen sak pondok’an, wes luwih suwe tahu” (kamu pernah berada di pondok yang sama, jadi kamu sudah lama kenal) “kepala sekolah jak en arek iku yo” (bawa saja anak itu bersamamu ).

“yo wes, iyo” *oke ya). Nur pun mengalah.

“Gak nelpon Widya, Ben cepat dapat anggukan. Usulan sementara kampus Gurung merilis daftar KKN’e, sayang kalau kampus Wes melepas, sedangkan Wes di bawah KKN Dewe” (saya panggil Widya, supaya proposal cepat dibuat sebelum pihak kampus mengeluarkan daftar KKN, bahaya kalau pihak kampus sudah mengeluarkannya.

Perlahan, mobil mereka meninggalkan jalan hutan. Nur dan Ayu, kembali ke kota mereka, mempersiapkan segalanya, sebelum mereka kembali lagi.

Sore harinya, Nur melihat Widya dan Ayu di hari pembekalan sebelum pemberangkatan KKN mereka. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya muncul 2 orang yang tergabung dalam kelompok KKN-nya, yaitu Wahyu dan Anton.

Mereka kembali membahas semua pekerjaan dan menentukan jadwal keberangkatan. Semua anak setuju, termasuk Widya, yang sepanjang hari terus bercerita bahwa ibunya punya firasat buruk tentang tempat KKN mereka. Nur hanya diam dan mendengarkan, karena di dalam hatinya dia juga merasakan hal yang sama.

Malam pemberangkatan, Nur, Widya, Ayu, Bima, Wahyu dan Anton sudah berkumpul, perjalanan dilanjutkan dengan mobil elf yang sebelumnya mereka sewa untuk membawa mereka ke hutan yang nantinya akan dihentikan oleh warga desa.

Sementara Nur masih bisa melihat temannya, Widya-lah yang memasang wajah tidak nyaman. Nur hanya bisa berdoa agar mereka pergi dengan utuh dan mudah-mudahan, kembali ke rumah dengan utuh juga. Namun, tidak ada yang tahu doa mana yang akan dikabulkan oleh Tuhan.

Di tengah gerimis yang mulai turun, Nur hanya menatap jalanan yang kosong. Tepat di halte lampu merah, seseorang menabrak kaca depan mobil Elfnya. Nur sangat terkejut sehingga dia tersentak mundur dari kursi mobil. Nur melihat pengemis tua yang terus menggedor kaca depan, membuat semua orang di dalam mobil bingung.

Termasuk pengemudi yang kemudian berteriak agar lelaki tua itu berhenti sambil melempar uang receh. Dari bibir orang tua itu Nur melihat dia berkata

“ojok budal ndok” (jangan pergi nak) suaranya terdengar familiar, seperti suara wanita tua.

Tapi mereka mengabaikannya, sampai mereka tiba di halte. Setelah menunggu, sederet lampu motor terlihat mendekat dari seberang jalan, lalu Nur mengucapkannya. “iku wong deso bernyanyi mengikuti rek” (itu orang dari desanya yang menjemput kami, teman-teman).

Tanpa membuang waktu, mereka melanjutkan perjalanan. Jalan setapak, dengan lumpur dari gerimis, pohon-pohon besar dan gelap dengan kabut di sana-sini, mewarnai jalan mereka.

Saat itu, yang terdengar hanya suara raungan motor tanpa suara binatang malam atau lainnya. Namun, semuanya berubah ketika tiba-tiba terdengar suara gamelan Jawa dari jauh. Suaranya terdengar jauh. Namun, seiring berjalannya waktu, itu menjadi lebih jelas dan lebih jelas. Nur pun mengamati tempat itu, lalu aroma bunga melati menyengat hidungnya.

Ia masih mencari dari mana asal suara itu. Nur kemudian melihat seorang wanita menunduk dengan mengayunkan lehernya tepat di antara rerumputan di samping jalan setapak. Diikuti dengan gerakan mengayunkan tangan dan lengannya yang bergerak seirama dengan suara gamelan, Nur menyadari bahwa perempuan itu sedang menari.

Dia menari di tengah malam, di kegelapan hutan yang sunyi dan sunyi. Pergerakannya terlihat begitu anggun, meski sepeda motor terus melaju menuju desa Tukuan. Nur bisa melihat dengan jelas, dia menari dengan sangat mempesona, seolah-olah dia sedang menunjuk ke panggung yang tidak bisa dilihat Nur. Siapa yang menari dalam kegelapan seperti ini. Nur terdiam dalam kengerian yang dia rasakan sendirian.

Saat sepeda motor berhenti dan sampai di desa, Nur tidak berkata apa-apa. Ia kemudian melihat Pak Prabu menyambut mereka. Saat Pak Prabu mengajak mereka ke tempat peristirahatan selama di desa ini, Widya tiba-tiba mengatakannya.

“Pak, kenapa Deso’ne di pelosok, men yo?”

(Pak, kenapa desanya begitu jauh?)

“Luar yo opo to sis, wong tekan di mek besar selama 30 menit” (Dari mana aja kak, orang dari jalan raya cuma butuh waktu 30 menit)

READ ALSO:  Urgent! Requirements for Registering the "Kartu Prakerja" Program in Indonesia

Nur hanya melihat, tidak mau berkata apa-apa, melihat wajah Ayu memerah, entah karena malu atau apa. Mungkin, Ayu merasa Widya telah mengatakan sesuatu yang tidak sopan sebagai tamu.

Seharusnya Widya tidak mengatakan itu saat baru datang. Di tengah perdebatan antara Widya dan Ayu, tiba-tiba dari balik pohon di kejauhan sesosok hitam bermata merah tampak membuntuti mereka. Sayangnya, hanya Nur yang bisa melihat.

Akhirnya perdebatan selesai. Nur meninggalkan sosok yang masih mengintip dari balik pohon. Kemudian, ia memasuki sebuah rumah milik salah satu warga yang hendak ditampung untuk ditinggali selama menjalankan tugas KKN-nya. Di dalam rumah, tampaknya pertengkaran Widya dan Ayu berlanjut.

Kisah Lengkap KKN di Kampung Tari Versi Nur

“Kok ngeselin sih, Wes pake baju, gak nyampe setengah jam, gue mau” (kok bandel sih, udah di suruh, gak nyampe setengah jam)

Nur masih melihat, bukannya bersyafaat, Nur lebih mementingkan hal lain, salah satunya adalah sosok genderuwo, kenapa dia menguntitnya. Namun, tiba-tiba Widya mengatakan sesuatu yang membuat Nur tidak bisa mengabaikannya.

“Apakah Anda ingin kru Anda mendengarkan atau tidak, gamelan onok suoro yang sedang ingin?” (Apakah Anda mendengar atau tidak, ada suara gamelan di tengah hutan?)

Namun ucapan Widya ditanggapi Ayu dengan nada mengejek. “Halah, setidaknya mari kita pergi ke acara desa tetangga, opo maneh” (halah, setidaknya seseorang mengadakan acara di desa berikutnya, apalagi)

Nur yang mendengar itu membantah ucapan Ayu.

“Yu, tidak apa-apa, itu desa yang bagus. Jare wong biyen, nek krungu suoro gamelan, ini pertanda buruk” (yu, tidak ada desa lain di sini. Orang biasa mengatakan, ketika mendengar suara gamelan, itu pertanda buruk)

Malam itu, berakhir, meski perdebatan masih berlanjut di benak masing-masing. Nur kemudian ingin menyampaikan tanda-tanda apa yang menunggu mereka di desa tersebut.

“Yu, aku mau bicara, wong loro ae, isok kan?” (Yu, aku ingin bicara sebentar, boleh?)

“Apa yang kamu bicarakan Nur?” (apa yang dikatakan Nur) Ayu bertanya,

Nur dan Ayu pergi ke pawon (dapur) dengan wajah Nur masih tegang. Ia masih ingat, matanya tidak mungkin salah melihat sosok makhluk itu.

“Yu, aku takon. Awakmu tidak menganggap itu aneh, tahukah kamu, krumu tidak ada, kok iso-isone Pak Prabu melarangmu begitu keras, ini KKN di sini. Bagaimana jika krumu tidak? t curiga itu jelas, kan?”

(Yu mau tanya dong, apa kalian tidak merasa asing di desa ini, ingatkah kalian, kok Pak Prabu datang, dilarang keras, kita KKN disini, jangan curiga)

“Apa maksudmu dengan ngunu?!” (apa maksudmu berkata seperti itu?!) kata Ayu ketus.

“Nah Pak Prabu kasih alasan, lapor kalau awak KKN di larang disini” (ternyata Pak Prabu punya alasan kenapa melarang kita KKN disini)

“Nenekmu bilang ada yang aneh, Widya mau perkoro, ra masuk akal, Nur, krumu perlu mengamati dan ini aku, kenapa aneh? Iya kan? Widya tadi, tidak masuk akal, Nur, kamu ‘Ikut dengan saya untuk mengamati di sini, tidak ada yang aneh? Bukankah, ayolah, ini hanya untuk beberapa minggu.)

Ayu pergi, meninggalkan Nur. Sementara Nur, tidak mungkin mengatakan apa yang dilihatnya, Ayu bahkan tidak percaya pada yang gaib. Disini Nur mengalah lagi.

“Nur” panggil Widya, Nur juga melihat wajah sedihnya, sepertinya baru saja menangis. Bukan hal yang aneh, siapa yang tidak akan menangis ketika merasakan sesuatu yang bahkan tidak masuk akal. “Besok nggak, aku jalok tulung” (bisa minta tolong) kata Widya.

“Tolong jangan bilang saya, karena saya mendengar gamelan, tidak baik penduduk desa marah, ini tamunya di sini” tamu di sini) Nur hanya mengangguk.

Namun, sebelum Widya meninggalkan tempatnya, tiba-tiba Nur mengatakannya. “Wid, sebenarnya saya ingin mendengar suara itu, sebenarnya saya melihat para penari di tepi bala” (Wid, sebenarnya, saya juga mendengar suara gamelan, bahkan saya melihat seseorang menari di sana)

Widya yang mendengar itu dari Ayu, sepertinya tidak percaya. Mereka langsung terdiam untuk waktu yang lama, bingung harus bereaksi apa.

Kisah Lengkap KKN di Kampung Tari Versi Nur

“Wes, Nur, duduklah, insya Allah tidak akan terjadi apa-apa jika kamu menghormati dan bersikap sopan selama di sini”

“(sudah Nur, jaga diri baik-baik ya, insya Allah tidak akan terjadi apa-apa, jika kita menghormati dan menjunjung tinggi sopan santun selama tinggal di tempat ini)” Kata-kata Widya setidaknya membuat Nur sedikit lebih rileks.

Malam itu, Nur tidak menceritakan sosok Hitam yang menguntit mereka. Pada malam pertama, Nur, Ayu dan Widya tidur di kamar yang sama. Mereka sepakat untuk menggelar tikar, dengan posisi Nur di tengah. Sedangkan Ayu dan Widya berada di sebelah kanan dan kiri Nur.

Saat dia menutup matanya, binatang malam itu terdengar berkicau, berlomba untuk menunjukkan keberadaannya. Nur tidak bisa tidur, lalu dia melihat 2 temannya sedang tertidur pulas, dia terbangun sendirian menatap langit-langit yang berupa ubin hitam dengan sarang laba-laba.

Rumah kampung tentu saja seperti ini, pikir Nur, paham, sekat ruangan tidak menyentuh langit ruangan, sehingga Nur bisa melihat celah di sana. Memikirkan apa yang terjadi hari ini, Nur tiba-tiba menyadari bahwa suara bising binatang malam sudah tidak terdengar lagi. Kini tergantikan oleh suara lirih yang menjerit membuat telinga Nur menjerit ketakutan.

Perasaan tidak enak yang tiba-tiba muncul justru membuat Nur semakin waspada. ketika tatapannya mencoba mencari cara untuk mengurangi rasa takutnya, di tengah cahaya lampu petromax yang memancarkan cahaya redup, di sudut partisi ruangan ada sosok bermata merah mengintip ke arahnya.

Nur tersedak, lalu mundur untuk menutupi wajahnya dengan selimut yang dibawanya. Kemunculan wajahnya tergambar di kepala Nur. Mengingat itu, sungguh membuat detak jantung di dadanya, berdegup kencang. ia ingat, tanduk kerbau yang menempel di kepalanya serta pancaran amarahnya seolah membuat Nur semakin tersudut ketakutan.

Spontan Nur mulai membacakan ayat kursi tersebut. Namun, setiap selesai memanjatkan doa, disusul dengan suara papan kayu yang dibanting keras.

Nur mulai menangis, ia tahu makhluk itu masih ada. Seolah tidak terima dengan apa yang dilakukannya, meminta pertolongan pada tuhan. Tepat saat hati Nur menjerit, perlahan suara itu menghilang digantikan keheningan.

Nur terbangun ketika fajar memanggil, dia masih tidak mengerti apa yang terjadi kemarin. Entah itu mimpi atau benar-benar terjadi, yang ia tahu ia harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim yang taat. Dia kemudian melakukan shalat subuh.

Nur, mencoba meyakinkan dirinya untuk tidak menceritakan bahkan kepada 2 temannya, tentang apa yang baru saja terjadi padanya.

Pagi harinya Pak Prabu mengumpulkan semua anak-anak. mengatakan bahwa hari ini, dia akan memperkenalkan seluruh desa dan di mana saja yang dapat digunakan sebagai perwakilan bagi mereka untuk bekerja sesuai kesepakatan per anak dalam kelompok.

Pak Prabu menjelaskan sambil berjalan, sambil berjalan menyusuri desa anak-anak mengikutinya. Mereka merasa tidak ada yang menarik dari penjelasan Pak Prabu tentang desa tersebut, bahkan Pak Prabu terkesan seolah-olah menyembunyikan sejarah desa tersebut.

Hal ini membuat Nur semakin curiga, selain hal-hal yang umum, hanya Wahyu katingnya yang selalu menanggapi perkataan Pak Prabu dengan candaan, membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Semuanya terasa natural, seperti KKN yang Nur bayangkan. Hingga akhirnya, mereka berhenti di sebuah tempat yang membuat Nur tidak nyaman. Yaitu kuburan, di kanan kirinya banyak pohon beringin besar.

Selain itu, pemandangan di kuburan juga tampak sangat aneh. Setiap batu nisan ditutupi kain hitam, membuat Nur dan semua orang penasaran, apa alasannya?

READ ALSO:  Teks Khutbah Jumat Singkat 2022 Tentang Memaknai Bulan Rajab

Nur merasakan angin di sekitarnya, dia tahu ada yang tidak beres dengan tempat ini. Seolah-olah, tempat ini sudah menyangkal keberadaannya. Ada satu hal yang membuat Nur semakin curiga dengan Pak Prabu, dimana dia tiba-tiba teringat kalimat Wahyu.

Kemudian dia mengucapkan nada mengancam seolah-olah Pak Prabu sedang menjaga sesuatu yang sakral di tempat itu. Pak Prabu melarang mereka melewati sebuah gapura atau gapura di tengah hutan. Jika mereka melanggarnya maka sesuatu akan terjadi pada mereka. Apa yang sebenarnya disembunyikan Pak Prabu?

Untunglah Bima segera turun tangan atas kejadian tersebut, membuat Pak Prabu kembali menjadi Pak Prabu sebelumnya. Namun, Nur sepertinya tahu bahwa dia tidak bisa lagi mengikuti tur desa ini. Kemudian beliau pamit untuk kembali ke penginapan dan Pak Prabu mengizinkannya.

Bima menawarkan diri untuk mengambil Nur. Sementara itu semua anak melanjutkan perjalanan bersama Pak Prabu. Nur dan Bima, berjalan kembali ke area rumah tempat mereka menginap.

“Onok opo Nur? Setan macam apa?” (ada apa Nur? hantu lagi?)

Dari semua anak, tidak ada yang mengenal Nur lebih baik dari temannya Bima ketika dia di rumah. Nur hanya menjawab seadanya, mungkin kesehatannya menurun, tapi Bima tahu Nur berbohong.

“Kalau kuburan mau, ramai” (di pemakaman, ramai)

Kata-kata Bima sama sekali tidak dihiraukan oleh Nur, membuat Bima akhirnya menyerah. Dalam perjalanan pulang, Bima tiba-tiba menanyakan sesuatu yang membuat Nur curiga pada Bima.

Kisah Lengkap KKN di Kampung Tari Versi Nur

“Nur, aku takok. Widya wes nduwe rung pacarnya?”

(Nur, saya tanya, Widya udah punya pacar belum?)

“pai?” (bagaimana?) tanya Nur lagi.

“Kancamu” (temanmu) “Widya, wes onok, pacarmu atau pacarmu?” (Widya kan, udah punya pacar belum?)

“takono dewe ae yo” (tanyakan saja pada diri sendiri) Nur tahu, Bima menyukai Widya.

Nur yang menghabiskan sorenya di kamar, terbangun saat Ayu memanggilnya. Semua anak sudah berkumpul, dan Ayu menunjukkan proposal proyek kerja mana yang sudah disetujui Pak Prabu. Ayu, bagi menjadi 3 kelompok. Diantaranya terbagi menjadi Widya dengan Wahyu, Nur dengan Anton, sedangkan Bima dan Ayu.

Semua anak setuju, tidak ada yang banyak berkomentar mengingat Ayu yang paling berjasa sehingga bisa mendapat tempat KKN tanpa campur tangan pihak kampus. Lusa, adalah awal dari pelaksanaan program kerja mereka.

Sore tiba, saat Nur baru saja selesai membereskan barang-barangnya untuk persiapan kerja kelompok, Widya masuk ke kamar.

“Nur, ados yok” (Nur, ayo mandi) tanya Widya.

“Apa?” (dimana?) tanya Nur.

“Nang, kamar sebelah, cidek sinden kui, kru kamu gila, kolam kecil” (di kamar sebelah sungai, ada bilik kecil lho, bangunannya seperti kolam) jelas Widya.

Nur tidak menjawab, tapi setelah berpikir bahwa dia belum mandi sejak pertama kali datang ke sini, dia setuju. Dengan syarat Nur harus mandi duluan.

Saat melewati mata air bernama Sinden, Nur sudah merasakan perasaan tidak enak. Sinden terdiri dari tangga yang ditumpuk dengan batu bata merah, sepertinya bangunannya sudah sangat tua tetapi ada air yang jernih di dalamnya. Nur tidak pernah melihat orang menggunakan air.

Perhatian Nur tertuju pada bentuknya yang menyerupai candi kecil di belakangnya. Di pelataran candi terdapat sesaji yang merupakan hal lumrah di tempat ini. Nur tidak melihat adanya gangguan saat mengamati Sinden.

Saat masuk, Nur langsung mencium bau amis seperti daging busuk, namun Nur mencoba memahami. Mengingat bilik itu sendiri tidak terlihat seperti kamar mandi yang bersih, lantainya tanah, dan kedua sisinya dilumuri lumut, maka Nur mencoba memahaminya.

Ia langsung membasuh tubuhnya dengan air di kendi, namun ada perasaan aneh saat air itu membilas tubuhnya. Seperti ada benda kecil yang menempel jika bersentuhan dengan kulit Nur. Ketika dia melihat, dia menemukan bahwa kendi air itu penuh dengan rambut.

Nur kaget, dia wastighfar terus-menerus, sambil melangkah mundur. Ia mencoba menelepon Widya. tapi anehnya tidak ada jawaban dari Widya. Nur yang berbalut handuk berusaha membuka pintu bilik, namun anehnya pintu bilik itu seolah dipegang oleh seseorang di luar.

“Lebar, buka!! Buka lebar!” teriak Nur sambil menggedor pintu yang terbuat dari anyaman bambu.

Namun, masih belum ada jawaban dari Widya. Hingga Nur menyadari bahwa di belakangnya ada sosok hitam, sangat besar hingga menyentuh langit ruangan.

Nur pun memejamkan matanya rapat-rapat dan hal pertama yang dilakukannya adalah istighfar. Saat tangannya sedang mencari batu di tanah ruangan, ketika tangannya berhasil meraih batu, Nur melempar batu itu. Sambil mengucapkan doa yang diajarkan oleh gurunya ketika bertemu dengan seorang pria, sosok itu menghilang.

Nur butuh waktu untuk menenangkan diri, dia tahu dia menjadi sasaran. Tapi kenapa dia jadi sasaran, dia merasa tidak melakukan apa-apa di tempat itu. Bahkan jika itu karena dia tidak sengaja melihat makhluk itu, seharusnya bukan hanya Nur yang sial, tetapi makhluk itu juga harus sial.

Tiba-tiba pintu terbuka, dimana Widya melihat Nur dengan ekspresi aneh.

“Laporkan Wid?” (mengapa Wid?)

“Hah?” “Tidak ada popo” kata Widya saat itu.

Kisah Lengkap KKN di Kampung Tari Versi Nur

“wes ndang adus, ben i’m sak iki seng jogo, cepat yo wes peteng” (mari mandi biar aku yang urus, cepetan udah malem)

Awalnya Widya terlihat ragu, sepertinya dia ingin membatalkan niatnya untuk mandi. Tidak hanya itu, Widya sepertinya ingin mengatakan sesuatu kepada Nur tapi kemudian menutupnya, ia lalu menutup pintu.

Saat Nur berjaga di luar, samar-samar ia bisa mendengar suara orang bernyanyi (bernyanyi dalam bahasa Jawa). Penasaran, Nur mulai mencari sumber suara dan berakhir di gemah dari dalam ruangan. Nur takut terjadi hal buruk, Nur mencoba menelpon Widya menyuruhnya segera menyelesaikan mandinya. Namun, Widya tidak menjawab teriakannya, suara lantunan itu semakin jelas.

Dari sisi bilik, Nur menemukan semak belukar yang dia coba lempar dari sana. Namun, dia terkejut ketika mengetahui di balik stan ada sesajen lengkap dengan bau dupa yang dibakar. Nur berusaha mengabaikannya dan terus berusaha menelepon sahabatnya itu. Sampai dia menemukan celah untuk melihat ke dalam.

Nur melihatnya, namun yang dilihatnya bukanlah Widya melainkan seorang wanita cantik yang ia kenal adalah penari pertama yang ia lihat saat memasuki desa tersebut. Dari situ, keanehan terus terjadi.

Nur mulai merasakan teror yang menyerangnya. Diikuti oleh teman-temannya. Selain itu, Bima dan Ayu melanggar aturan dari Pak Prabu. Mereka melewati gerbang di tengah hutan terlarang.

Kemudian diketahui bahwa Nur memiliki kodam (makhluk halus yang telah menjaganya sejak kecil). Dia tahu seseorang melanggar aturan. Kemudian diketahui bahwa Bima dan Ayu adalah pelakunya.

Bima kemudian harus membuat perjanjian dengan Badarawuhi untuk membantunya memikat Widya. Syaratnya Bima harus menikah dengan Badarawuhi

“Bima harus menikah dengan Badarawuhi, anaknya berwujud ular, sekali melahirkan, ribuan ular bisa lahir,” kata Mbah Buyut kepada Widya.

“Itu salah temanmu, jadi sekarang mereka harus bertanggung jawab,” lanjutnya.

Sebelum Bima mengembuskan napas terakhir, Widya dan Nur meminta Mbah Buyut agar Bima dan Ayu tetap tinggal di Kampung Penari agar keduanya bisa diselamatkan dari Badarawuhi.

Namun pihak keluarga Bima dan Ayu tidak menginginkan mereka berdua berada di Kampung Penari dan tetap membawa mereka pulang ke rumah masing-masing untuk meminta pertolongan dari pihak medis.

Hingga akhirnya Bima bernafas lega setelah tiga hari kembali dari desa. Disusul Ayu yang meninggal 3 bulan kemudian. Diceritakan jiwa mereka masih tertinggal di sana. Disebutkan juga bahwa semangat Ayu masih harus terus menari untuk menebus kesalahannya.

Demikian ulasan tentang KKN Desa Menari versi Nur. Semoga bermanfaat!

Gallery for Cerita Asli KKN di Desa Penari Lengkap Versi Widya dan Nur

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.